Indeks


English English French German Spain Italian Russian Dutch Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Transliterate by Akibasret Group

Kedahsyatan Energi Sumpah

Diposting oleh Alfa RS Rabu, 25 November 2009

Oleh: M. haromain

Pada 20 januari lalu Barak Hussein obama dilantik manjadi Presiden Amerika serikat ke-44. Tapi ada setitik noda saat upacaa pelantkan tersebut. Saat pembacaan sumpah ternyata ketua mahkamah agung AS Johyn G. Robert salah mengucapkan urut-urutan kata yang mesti ditirukan obama.

Meski hanya kesalahan kecil, itu menjadi rasan-rasanan media di AS. Terutama tentang keabsahan obama sebagai presiden AS. Agar tak berlarut-larut, sehari kemudian presiden berkulit hitam pertama AS itu memutuskan mengulang pembacaan sumpahnya ( jawa pos/ jumat/ 23/ januari/09 ). Berlebihankah media AS yang menuntut obama mengulangi pernyataan sumpahnya? Apakah tradisi sumpah, baiah atau ikrar dalam pelantikan-pelantikan jabatan mulai jabatan presiden hingga ketua jam iyah far iyah di pondok pesantren hanyalah sebatas seremonial dan formalits belaka? Agaknya pertanyaan-pertanyaan itulah yang menarik penuis artikel ini untuk mencoba menguak rahasia yang terkandung dalam pernyataan sumpah atau ikrar hingga ia dianggap begitu penting, dengan jalan menelisik beberapa kesuksesan dan prestasi besar dalam sejarah dibawah ini.

Baiah Aqobah I
Ikrar ini adalah ikrar yang diucapkan oleh beberapa muslim asal yasrib yang baru masuk islam,bertempat di tanah aqobah. Mereka berikrar atau bersumpah kepada Nabi untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, tidak mengupat dan memfitnah, tidak menolak berbuat kebajikan dls. Ikrar ini kemudian dikenal sebagai bai ah aqobah 1.

Tidak lama setelah berlangsungnya ikrar ini agama Islam makin tersebar luas di yasrib. Dan Nabi pun menugaskan sahabat mus’ab bin umar untuk mengajarkan ilmu agama disana, baik kepada kalangan muslimin aus maupun khazraj. Dan lewat perantara ikrar aqobah I inilah nabi mendapatkan ilham melakukan hijrah ke yasrib karena kota ini dinilai lebih prospektif bagi pengembangan dan masa depan agama islam dibanding makah.

Baiah Aqobah II
Bermula pada tahun 622 M ketika jumlah peziarah dari yasrib yang telah masuk islam bertambah banyak , tepatnya berjumlah 75 orang terdiri dari 73 laki-laki dan 2 perempuan, Nabi punya inisiatif untuk mengikrar, menyumpah mereka di aqobah yang kemudian popular dengan nama baiah aqobah 11. JIKA PADA IKRAR aqobah PERTAMA sebatas hanya pada seruan kepada islam, namun pada ikrar kali ini nabi menghendaki agar ikrar kedua ini dapat lebih mengikat dan menjadi pakta persekutuan yang dengan demikian kaum muslimin dapat mempertahankan diri dari tekanan kaum paganisme quraish.[1]

Akhirnya - untuk meringkas cerita - bertempat di bukit akobah mereka bersedia mengucapkan ikrar atau sumpah. Inilah pernyataan ikrar mereka dihadapan nabi:

“Kami berikrar bahwa kami sudah mendengar dan setia diwaktu suka danduka ,diwaktu bahagia dan sengsara , kami hanya akan berkata yang benar dimana saja kami berada ,dan dijalan Allah ini kami tidak takut kritik siapapun “.[2]

Peristiwa ikrar ini selesai pada tengah malam disebuah celah bukit aqobah jauh dari masyarakat ramai, dengan dasar kepercayaan bahwa hanya Allah yang tahu keadaan mereka. Tahukah dampak dan pengaruh dari baiah aqobah 11 ini? Sungguh dampak dan pengaruhnya sangat luarbiasa bagi perkembangan danmasa depan agama islam. Berkat ikrar aqobah inilah yang membuat Nabi memiliki para sahabat dari kalangan angsor( penduduk pribumi madinah) yang sangat loyal dan setia pada beliau sehingga mereka mau dan rela berjuang dan berkorban dalam banyak peperangan demi membela islam dan melindungi nabi. Dan dalam perang badar, uhud, khondak serta berbagai ekspedisi ke beberapa daerah mereka membuktikan loyalitas dan kesetiaan mereka hingga titik darah penghabisan. dan pada akhirnya berkat didampingi oleh sahabat-sahabat yang militan itulah akhirnya nabi dapat menegakkan agama islam ini tidak hanya di semenanjung arab tapi hingga ke pelbagai penjuru dunia.sungguh spektakuler.

Sumpah Palapa Gajah Mada
Saat dilantik menjadi patih majapahit, gajah mada bersumpah dengn mengatakan, “ saya bersumpah tidak akan amukti palapa ( makan buah palapa )sebelum berhasil menyatukan nusantara”. Dan tak dinyana, ternyata sumpah gajahmada tersebut akhirnya menjadi motifasi besar bagi kerajaan majapahit sehingga menjadi imperium dengan wilayah terluas mulai papua sampai Pahang ( Malaysia ). Dalam kisah ini patih gajah mada berhasil mewujudkan cita-citanya yaitu menyatukan wilayah nusantara, karena ia, lewat bersumpah ia dapat membangkitkan kekuatan bawah sadarnya.

Sumpah Pemuda Pra Kemerdekaan
Hari sumpah pemuda diperingati tiap tanggal 28- oktober. Peristiwa supah pemuda dilator belakangi ketika para aktivis pemuda Indonesia pada akhir tahun 1920-an meyakini perlunya kesatuan sumpah demi mendapat kemerdekaan. Pada era 1920-an itu kita yang sekarang bernama bangsa Indonesia masihlah berupa komunitas-komunitas, suku-suku dan kerajaan-kerajaan yang terpencar-pencar. Kala itu tidak semua orang berani sekedar punya impian dan harapan terwujudnya kesatuan dan kemerdekaan Indonesia.

Tapi ada sekian pemuda Indonesia yang inovatif dan eksperimental, yasng punya cita-cita bisa bersatunya nusantara dan terbebas dari belenggu penjajahan belanda. Untuk membantu merealisasikan cita-cita itu mereka menjalankan sumpah yang kini dikenal sebagai sumpah pemuda. Dan sekali lagi sumpah menunjukkan kekuatannya . Pada 17, agustus, 1945 harapan dan impian para pemuda tersebut terkabul, proklamasi kemerdekaan pepublik Indonesia pada hari itu telah dibacakan oleh ir. Sukarno.

Demikianlah tiga keberhasilan besar dan spektakuler yang tercatat dalam sejarah ,hal mana ketiganya sama-sama berpijak dari sumpah atau ikrar sebagai langkah pertamanya. Itu membuktikan bahawa suatu sumpah yang dinyatakan baik secara individual ataupun kelompaok benar-benar memeiliki kekuatan dahsyat yang mendorong individu atau kelompok tersebut meraih cita-citanya.

Tapi perlu digaris bawahi bahwa tidak semua sumpah memiliki energi dahsyat sebagaimana dalam 3 sejarah di atas . Hanya sumpah yang dilandasi keimananlah yang mampu mendorong orang yang mengucapkan sumpah meraih impian dan harapannya . Sebab dengan sentuhan iman, orang yang telah mengucapkan ikrar dan sumpahnya, ia secara psikologis akan merasa bertanggungjawab untuk merealisasikan sumpahnya serta berusaha keras supaya tidak melanggar sumpah tersebut. Sebaliknya sumpah yang tidak dibarengi dengan keimanan pada tuhan, maka sumpah tersebut hanya akan menjadi sebuah prosesi seremonial dan formalitas belaka yang kering makna dan tak punya pengaruh apapun. Oleh karena itu jangan heran jika dalam pelantikan-pelantikan jabatan tertentu pada kalangan orang-orang yang iman dan akidahnya lemah, akhirnya pengucapan janji-janjinya hanya menjadi utopia semata ,tak pernah menjadi kenyataan . Wallahu a’lam.

Footnote:
1. Muhammad Husain Haikal, Hayatu Muhammad, atau Sejarah Hidup Muhammad, terj. Ali
Audah (jakarta, 1972) hal. 173.
2. Ibid, Hal. 176.

0 komentar

Posting Komentar

Kirimkan Pesan Anda Di Sini

 
Powered and redesign By Akibasreet © Nopember 2009 | Resolution: 1024x768px | Best View: Firefox | Top